Showing posts with label sharings. Show all posts
Showing posts with label sharings. Show all posts

29.12.10

leave your comfort zone!

Bismillahirahmanirahim

[sharing from my beloved sister, kak s :)]

Leave your comfort zone



When you feel overwhelmed, just remember that for eagles, too, it's the price of flying! -Bettie B. Youngs

The mother eagle makes her nest high on a cliff's edge. So high, in fact, that the baby eagle is literally so terrified of its "free fall" that it will not leave the nest unless pushed out by its mother!



Imagine the confusion of the baby eagle when his mother, who up to this point has been nurturing and attentive, suddenly seems to turn on him, pushing him from the nest and forcing him to fly!

But, of course, in the end, pushed from the confines of a nest now outgrown, the baby eagle takes flight and learns that everything's going to be okay.

Because, you see, in the free fall, the young eagle learns to trust its wings!



It's an important lesson:

When your challenges seem overwhelming, when you feel frightened or confused, when you're being called to leave behind something familiar but outgrown, remember the baby eagle.

You, too, can soar - but first you'll have to leave the safety of your comfort zone!

Momentary "overwhelm" is to be expected, so don't let it stop you from reaching new heights in your life!



I will not fear the price of learning to "fly"! I will take one positive action that is outside my comfort zone.


O Allah, please guide us.
:)
yok, leave our comfort zone.
p/s: it's weird how the so-called "love" towards the other gender can actually motivate a person in
being successful in their studies.
ermm so, as muslims, the LOVE to Allah should motivate us more, not just being bright students
but
also successful in our daily life, in anything we do. y? because Allah's LOVE is moreeeeee powerful than the so-called "love" :)
berusaha!

24.12.10

a fighter

Bismilahirahmanirahim

Alhamdulillah
No doubt. Allah is the best of all inspirations :)
True, isn't it?
How HE has given strength to all our brothers and sisters to keep running and running until the end.
and one of the fighter is akhi mas afzal.

last saturday was the first time i ever heard his name. ruhul acknowledge me about a brother, graduated from sheffield, a fighter who just passed away [17.12.10] due to CANCER.
and yesterday, as i was in my down n upsetting mood, i came across a post about him - run akhi, run!

his blog has been inspirational for others with his strong faith in Allah in fighting the disease.
he manage to accomplished his MBBS meanwhile undergoing treatment.
and never never stop on 'giving' to others.
he never let the disease took hold of him. Allahuakbar!

these are some words i took from his blog

"I can only find contentment in my trial and tribulation by putting any negatives aside, and start thanking Allah for the blessings He has showered me with."

"Never abandon asking from Allah. If it is not Him, then NO ONE else can help us in this world, and in the Hereafter."

"Allah certainly has unique ways to show HIS Love"

and

"I wish i could tell each and everyone of them, that
If i am not letting this terminal cancer of mine stopping me from 'giving' to humanity, then what more for them, all fit and well. Let us all RISE to glory!"

which made me think very deeply.
how will i finish my race??

takziah to family & sahabat-sahabat akhi.

indeed, he didn't lose the race, but he finished it strongly.


Al-Fatihah~

"And remember also that your Lord forewarned, 'If you be grateful I will increase My favors on you, and if you be ungrateful (you should know that) My chastisement is severe indeed'!" [Ibrahim:7]


10.11.10

ego

Bismillahirahmanirahim

Pernah atau tidak, anda rasa susah nak menangis di hadapan Dia?
Dan seringkali anda cuba dan terus cuba untuk menangis di hadapan Dia tetapi tetap gagal.
Kenapa ye?
Sebab masih ada EGO dalam diri.
Merasakan diri masih lagi baik sedangkan masih banyak lagi yang perlu diperbaiki.
Merasakan diri lebih baik daripada orang-orang disekeliling tetapi sebenarnya hati mereka hanya Allah sahaja yang layak menilainya.
Dan mungkin mereka lebih lebih lebih lebih lebih baik daripada diri anda sendiri.
Sedarlah wahai diri!
Buanglah keegoanmu.
Tanam ia sedalam-dalamnya ke dalam tanah!
Dan.
Tunduklah pada Yang Maha Satu!


jika seseorang hamba tidak lagi mudah menangis kerana takut dengan kekuasaan allah…

justeru, menangislah kerana ketidakmampuan itu [the dreamer]

p/s: maaf. to remind myself.
p/s2: video yang selalu ingatkan saya untuk kembali kepada fitrah yang asal -> http://www.youtube.com/watch?v=7SpbMqI4M3E

8.11.10

z2h

Bismillahirahmanirahim

z2h?
zero to hero :)

SubhanAllah!I was amazed by a video made by a sister in Ireland.
Not only the video that amazed me, but the words in it as well.
A little morning reminder for me n ruhul :)
yep, keep on going to being a hero! [err heroine :D] yosh!


[siapa ada buku zero to hero? saya mauuuu!!]

p/s1: back from home. renew the spirit n intention. pray for us!

1.8.10

dush!

Bismillahirahmanirahim

SuhanAllah, Alhamdulillah, Allahu akbar

InsyaAllah a short post ;)

A quote given by a practising brother in a program i attended during the weekend

" Dunya is NOTHING compared to akhirah! "

SubhanAllah!

In a hadith, Prophet S.A.W said:

"The worth of THIS WORLD compared with the HEREAFTER is, as if one dips his finger in the ocean, and then examines as to how much water it brings when taken out"
[Riwayat Muslim]

SubhanAllah!

dush! [kena muka!]
it worth nothing when we don't use the days in this dunya for our akhirah
akhirah is our mission!

p/s: nag Allah more and more

27.6.10

aisyah humaira'

Puisi Aisyah Humaira.


Tundukkan wajah kalian, renungkan hikmah pelajaran,

Menelusuri jauh ke dalam sirah silam yang tak pernah lapuk dek zaman,

Dilimpahi keimanan, disirami wahyu,

Aromanya semerbak dari barat ke timur.

Dia,

Wanita yang paling dicintai Rasulullah,

Menyusur ketulusan dari kedua orang tuanya,

Menyantap hidangan wahyu atas meja kenabian,

Dialah, wanita yang suci dan disucikan dari atas 7 lapis langit,

Aisyah Humaira’.


Ayahnya Abu Bakar, ibunya Ummu Rumman,

Mewarisi kecerdikan dan kebesaran jiwa yang dimiliki bondanya,

Lahirnya ketika setahun selepas kerasulan baginda,

Dari keluarga terhormat yang kemuliaannya tercatat sepanjang masa.


Dunia berputar, saling mengisi,

Melengkapi satu dengan yang lain,

Tanpa yang satu, takkan ada yang lain,

Kisah cinta agung antara kekasih Allah, dan kekasihnya,

Satu-satunya gadis yang dinikahi Nabi.

Tatkala Jibril membawa gambarnya didalam mimpi,

Dialah isteri..duniawi , ukhrawi..


Menyinari ruang gelap hati, membawa cahaya mulai bersemi,

Menebar aroma syurgawi,

Apalah sangat cinta Qais kepada Laila,

Apatah lagi cinta Shah Jahan pada isterinya. Taj Mahal tidak bisa membuktikan segalanya.

Kisah cinta Nabi dan Humaira penuh barakah,

Diasuh dididik penuh hikmah, walaupun masih kecil saat usia pernikahannya.

“Aku menemani perjalanan kekasih Allah. Saat itu aku masih kecil dan tubuhku masih ramping. Tiba-tiba, Rasulullah berkata pada para sahabat di sekitarnya, “Majulah..Majulah..”

Mereka pun berjalan dengan lebih cepat dan laju. Kemudian, baginda berkata kepadaku, “ Hai Aisyah, ayuh kita lumba lari!” Kami pun berlumba dan aku mendahului baginda.

Cukup lama baginda tidak mengungkit kejadian itu, hingga suatu masa ketika tubuhku sudah agak berisi. Dia berkata padaku, “ Hai Aisyah, ayuh kita berlumba lari!” Kami pun berlumba, tapi kali ini baginda mendahuluiku. Baginda tampak tersenyum, lalu berkata,”Sekarang kita seri, kemenanganku saat ini membalas kekalahanku dahulu”


Azan menerpa sayup bergema,

Aisyah punya kelebihan tidak terkala, Bisa saja menimbulkan cemburu nista,

Namun, itulah istimewanya humaira, matang dalam meniti usia,

Menjadi isteri solehah, rela bersama hatta di bawah pelepah kurma dan batu bata, beralaskan kulit binatang tidurnya singgahsana,

Namun rencahnya sabar dan menerima,

Redha Allah mengiringi di lembayung rumahtangga.

Setelah 6 tahun menjadi seorang isteri, dugaan datang Allah menguji,

Menemani Rasulullah ketika menuju ke medan perang menentang Bani Mushtaliq,

Pulang bersama cahaya kemenangan,

Tersirat bersama kisah kedukaan-petunjuk tersirat dari Sang Khaliq.


Tatkala pulang menuju Madinah,

Kalung tercicir tak siapa sedar,

Tinggalnya Aisyah berlitup kesepian,

Datanglah Safwan menghulur bantuan.

Sambutan derita menikam jiwa,

Aisyah sakit 37 hari lamanya,

Dituduh fitnah berkhalwat dengan pejuang agama,

Hah! Itulah seorang munafik,Abdullah bin Ubay, punya angkara!!

Mereka telah melakukan perkara yang keji ya Rasulullah!!!

Sang suami mendengar penuh teliti,

Apakah dusta yang diada-adakan ini??

Kesedihan menyelubung segenap jiwa,

Ya Allah! Beratnya badai yang melanda!!

Gagahnya sang suami cuba menutupi kesedihan yang diterima,

Dengan sabar dan penuh redha,

Sekali-kali tidak percaya pada tuduhan al-ifki,

Betapa didamba petunjuk dari Ilahi,

Demi membersihkan isteri yang disayangi.


Hancur hatinya berlalu pergi, membawa sakit luluh di hati,

Kerumah bonda membawa diri,

Menunggu ketetapan Allah menghapus duka yang meliputi.

Berkata rasulullah

“Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku berita buruk itu. Maka jika engkau bersih, Allah pasti akan membersihkan engkau. Tetapi, jika engkau telah berdosa, mohon ampunlah pada Allah dan bertaubatlah kepadaNya. “

Ucapan itu umpama petir menyambar di hati Aisyah.

“Jawablah apa yang dikatakan Rasulullah itu ,ayah.”

“Demi Allah,Ayah tidak dapat memberi jawapan pada Rasulullah, wahai Aisyah.”

“Jawablah perkataan Rasulullah itu ibu?”

“Demi Allah, ibu tidak dapat memberi apa-apa jawapan pada Rasulullah, anakku”.

Aisyah kecewa. Air matanya membasahi pipinya.. Berpaling dari Rasulullah, dalam keesakan tangisan yang semakin mendayu..

“Demi Allah! Aku tidak akan bertaubat tentang apa yang kau katakan itu, wahai Rasulullah! Demi Allah , sekiranya aku mengakui apa yang telah diperkatakan orang kepadaku, namun Allah tahu aku suci.

Tapi kalau aku menafikannya, Kamu semua tidak akan percaya! Namun aku hanya akan mengatakan sebagaimana yang diucapkan oleh Nabi Yaaqub iaitu aku akan bersabar kerana kesabaran itu adalah sesuatu yang baik dan Allah jualah tempat memohon bantuan dan pertolongan untuk mengatasi sesuatu yang dikatakan kepadaku.”

Tika saat semua orang belum berganjak dari tempat duduknya,ketika itu jugalah Allah telah menurunkan wahyu kepada Rasulullah. Kelihatan baginda seperti menerima beban yang sangat berat sehingga butir-butir keringatnya jatuh bercucuran seperti mutiara, kerana beratnya proses penerimaan wahyu yang diturunkan kepadanya.

Selepas itu, Rasulullah membuka matanya sambil tersenyum,

“Bergembiralah wahai Aisyah. Allah telah menurunkan wahyunya dan membersihkan engkau dari tuduhan tersebut.”

“Aisyah, bangunlah, hampiri suamimu”

“Demi Allah. Aku tidak mahu berdiri kepadanya dan tidak akan memuji selain dari Allah yang telah menurunkan pernyataan membersihkan diriku.”

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong (Al-Ifk) itu adalah dari golongan kamu juga, janganlah kamu menyangka berita bohong itu buruk bagi kamu, tetapi ia adalah baik untuk kamu. Setiap mereka akan mendapat balasan dari dosa yang mereka lakukan. Sesiapa diantara mereka yang mengambil terbesar dalam menyebarkan berita bohong itu akan dapat baginya azab yang pedih [annur:11]

“Sungguh, orang-orang yang menuduh perempuan-perempuan baik yang lengah (yang tidak pernah teringat untuk melakukan perbuatan yang keji) danberiman(dengan tuduhan berzina) , mereka dilaknat didunia dan diakhirat, dan mereka akan mendapat azab yang besar.[annur:23]


Lihatlah!

Dia tidak pernah menjangka Allah akan menurunkan ayat al-Quran untuknya.

Memberi kesaksian atas kesuciannya!

Perancangan Allah yang Maha Hebat memberi 1000 makna,

Mengkehendaki Aisyah dan seisinya meningkatkan ubudiyah mereka kpd Dia,

Alhamdulillah!

Nikmatnya terasa sempurna setelah kefakiran dan harapan yang tinggi kepada Ya Rahman!

Kebergantungan mutlak yang menyucikan!

Wahyu yang turun bagaikan hujan di tengah musim kering,

Bahananya sangat indah, luar biasa pada perasaan..

Ternyata fitnah yang dilemparkan ibarat isu-isu kosong,

Yang pasti mustahil menodai wanita penghuni syurga ini,

Dialah ibunda kita, Aisyah al-humaira.


oleh Hawariyyun ^_~

Qiam Akhawat 2010

26.6.10

inilah Islam

Bismillahirahmanirahim

Assalamualaikum
Moga kalian semua dibawah payung lindungaNya insyaAllah

Lamanya tak menulis.
Haih, masih belum konsisten dalam penulisan. Teringat pesanan kak A buat sahabat saya, Halawatuliman (bukan nama sebenar)
"tulis secara konsisten. tulis 10 ayat pun takpe. asalkan konsisten"
istiqamah. suka dengar perkataan tu, tetapi nak mengamalkannya, susah! tidak dapat tidak kena berusaha!

teringin nak menulis cuma itulah ilham datang dan pergi begitu sahaja.

insyaAllah, sedikit perkongisian yang diambil daripada buku 'Bagaimana menyentuh hati, Abbas As-Siisiy

-----

Kisah ini dialami oleh seorang muslim warga negara Jerman yang bernama Yahya Syuvskuh. Kisah ini bermula tatkala ia dan isterinya menumpang kenderaan umum. Waktu itu mereka berdua duduk di kursi. Tidak lama kemudian seorang lelaki tua berbangsa Afrika naik dan ternyata kerusi-kerusi sudah penuh dengan penumpang, sehingga lelaki tua itu berdiri. Dengan cepat Yahya bangkit dan mempersilakan lelaki tua itu untuk duduk. Lelaki tua itu pun berterima kasih lalu duduk, namun tiba-tiba dia menangis. Yahya terkejut dan bertanya tentang sebabnya, tetapi tak menemukan hasil, kerana lelaki tua itu berbicara dengan bahasa Inggeris sedangkan Yahya tidak boleh berbahasa Inggeris. Lalu ia mencari tahu dari para penumpang yang lain, dan dari merekalah ia mengetahui bahawa lelaki tua itu datang dari Afrika Selatan dan baru pertama kali dia melihat ada orang kulit putih yang mahu memberikan tempat duduknya. Yahya menceritakan kisah ini seraya berkata "Inilah Islam"


Masih dalam kisah Yahya, kisahnya kali ini terjadi tatkala ia berada di kota Makkah. Ketika tiba waktu solat, ia pergi ke Masjidil Haram . Ia lupa untuk membawa sejadah. Tatkala berdiri untuk melakukan solat ia melihat ke tempat sujudnya terdapat batu-batu kerikil, ia berkata "ini adalah bahagianku". Akan tetapi, tiba-tiba orang berkebangsaan India yang berada di sebelahnya melepaskan jaketnya dan menghamparkan di tempat sujud Yahya. Yahya menutup kisahnya dengan ucapan "Inilah Islam"

-----
SubhanAllah!
T_T
Agama Allah - Islam ituuuu innnnndahhhhhhh. kan? kan?
Cuma sekarang..... keindahan itu tidak kelihatan =(
Yosh duta-duta Islam!
kita kongsikan keindahan Islam!

21.5.10

friday reminder : wasting time

Bismillahirahmanirahim

Friday reminder : wasting time


*Allergic to lagha! :)
** jzkk nazirah azman~

20.5.10

halwa telinga

Bismillahirahmanirahim

assalamualaikum..

mengharapkan hari ini lebih lebih lebih baik daripada semalam. insyaAllah, insyaAllah, insyaAllah.
apa khabar iman hari ini? tepuk dada tanya iman kan?

pelik kan. walaupun kita tahu dunia ini hanya sementara, at times kita terlalu obses dengan dunia ini. sedangkan apa yang kita miliki, atau apa yang berlaku kepada kita [kegagalan dan sewaktu dengannya] bukanlah penentuan segala-galanya. [ish ish..reminder buat diri]

baik. sebulan yang lepas di program Qiam, Ust. Najib pernah share ini dengan kami

Ada tiga anak pokok yang diletakkan di dalam bilik yang berbeza
1- dalam bilik yang dipasang Al-Quran
2- dalam bilik yang dipasang lagu sentimental
3- dalam bilik yang dipasang lagu hard rock

agaknya anak pokok mana yang akan tumbuh dengan 'cemerlang'?
..
..
..
..
..

a'ah. mestilah yang anak pokok dalam bilik yang pertama.
it goes the same with our hearts...
Ayat-ayat Al-Quran yang dapat menyuburkan hati kita.

dengarlah lagu sentimental, korean ker, jepun ker, or any english songs
atau pon dengarlah lagu maher zain, sami yusof, outlandish, etc
tetapi rasanya berbeza. tidak akan sama dengan mendengar ayat-ayatNya.
ada perbezaan yang ketara - ketenangan

give a thought dan cubalah. :)


[Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah]

12.5.10

r.e.d.h.a

Bismillahirahmanirahim

redha..
belajar untuk mengenal erti redha...

redha ialah berlapang dada atas ketetapan Allah s.w.t dan membiarkan keberadaan rasa sakit, walaupun ia merasakannya. keredhaanya meringankan deritanya. Dan apabila redha semakin kuat, ia mampu menepis seluruh rasa sakit dan derita.

berlainan pula dengan sabar. sabar ialah menahan diri daripada kemarahan dan kekesalan ketika merasa sakit dan berharap derita itu segera hilang.

mereka yang redha adalah mereka yang dapat menghayati hikmah dan kebaikan Allah yang mendatangkan ujian

Anas bin Malik meriwayatkan dari Rasulullah s.a.w, beliau bersabda yang bermaksud:
"Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum Dia menguji mereka. Barangsiapa yang redha niscaya ia akan mendapatkan redhaNya. Barangsiapa yang kesal dan benci niscaya ia akan mendapatkan murkaNya"
[H.R. At-Tirmizi]

lihatlah pada sahabat Rasulullah

Suatu ketika Ali bin Abi Talib mendapati 'Ady bin Hatim sedang bersedih.

"Mengapa kamu bermuram durja?"

"Apa tidak boleh aku bermuram durja sedangkan dua anakku baru sahaja terbunuh, mataku juga baru sahaja tercungkil?" jawab 'Ady

"Wahai 'Ady, barangsiapa redha dengan ketetapan Allah maka sesungguhnya ketetapan Allah tetap terjadi, dan dia mendapat pahala. Dan barangsiapa yang tidak redha dengan ketetapanNya, sesungguhnya ketetapanNya tetap terjadi dan amalan orang itu terhapus" tutur Ali

-------------

cakap senang kan?, tapi selalu je lupa
baik, kena berusaha ^_^

11.5.10

::malu::

Bismillahirahmanirahim

terkesan dengan artikel ini

Perkongsian: Wahai Perempuan, lihatlah Anak Syu'aib ituMalulah, seperti malunya Anak Syuaib AS ~ Picture by yip87
Malulah, seperti malunya Anak Syu'aib AS ~ Picture by yip87

Ya Allah, kurniakanlah sifat malu kepada perempuan hari ini, sebagaimana sifat malu yang wujud pada Anak Syu’aib. Ya Allah, kurniakanlah sifat malu kepada perempuan hari ini, sebagaimanan sifat malu yang wujud pada Anak Syu’aib. Ya Allah, kurniakanlah sifat malu kepada perempuan hari ini, sebagaimana sifat malu yang wujud pada Anak Syu’aib.

Katakanlah amin.

Saya kagum dengan sifat malu yang wujud pada Anak perempuan Nabi Syu’aib. Selama ini saya sudah tahu akan kisahnya, tetapi semalam saya mendengar dengan penjelasan yang sangat-sangat mendalam, mencucuk, dan memberikan kesan dalam jiwa saya.

Moga keluarga perempuan saya, bakal isteri dan anak-anak saya, semuanya Allah kurniakan sifat malu yang ada pada Anak Syu’aib. Sememangnya sifat malunya, perlu dicontohi perempuan yang ada.

Lelaki juga, apa salahnya mengambil pengajaran daripadanya.


Kisah yang tercatat di dalam Al-Quran

“Dan ketika dia(Musa) sampai di sumber air negeri Madyan, ia dapati di situ sekumpulan orang-orang lelaki sedang memberi minum (binatang ternak masing-masing), dan ia juga dapati di sebelah mereka dua perempuan yang sedang menahan(ternakan mereka berdua). Dia bertanya: Mengapa dengan kamu berdua(menahan ternakan)? Mereka menjawab: Kami tidak dapat memberi minum (ternakan kami) sehingga pengembala-pengembala itu membawa balik binatang ternak masing-masing; dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya.”

“Maka Musa pun memberi minum kepada binatang-binatang ternak mereka, kemudian ia pergi ke tempat teduh lalu berdoa dengan berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku sangat berhajat kepada sebarang rezeki pemberian yang Engkau berikan.”

“Kemudian salah seorang dari perempuan dua beradik itu datang mendapatkannya dengan berjalan dalam keadaan tersipu-sipu sambil berkata:” Sebenarnya bapaku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami”. Surah Al-Qasas ayat 23-25.

Di dalam kisah pendek tiga ayat ini, tersembunyi ibrah yang sangat besar. Bukan hanya kisah pertemuan Musa dengan Anak Nabi Syu’aib yang kemudiannya mendidik kesabaran Musa. Bukan juga hanya kisah Musa yang baik hati membantu perempuan yang lemah. Bukan juga hanya kisah aturan Allah SWT yang cantik mengaturkan perjalanan Musa dalam rangka menjadikannya sebagai Nabi.

Tetapi di dalam tiga ayat ini, terdapat juga didikan untuk wanita.

Allah hendak menunjukkan bagaimana urusannya wanita dan lelaki, dengan menunjukkan sifat malu yang wujud dalam diri Anak-anak Syu’aib.

Wahai manusia, Allah sedang berbicara dengan anda berkenaan Sifat Malu.

Sifat malu yang sangat tinggi

Anak-anak Nabi Syu’aib tidak membenarkan diri mereka bercampuran dengan lelaki-lelaki lain walaupun mereka mempunyai kerja yang penting – memberikan minuman kepada ternakan mereka.

Mereka sanggup menahan ternakan mereka dan menanti walaupun keadaan itu sangat memberikan kekurangan kepada ternakan mereka nanti. Alasan lemah adalah alasan yang kedua. Alasan utama adalah kerana bergaulan, bercampuran dengan lelaki sememangnya menjatuhkan akhlak mereka.

Kita sendiri, kalau melihat perempuan tolak menolak dengan lelaki, berebut-rebut dengan lelaki, bersentuhan tangan, bergeselan badan, bagaimana agaknya persepsi kita?

Maka Anak-anak Syu’aib menanti. Biar lapang baru mereka pergi. Tidak melanggar adab pergaulan, dan tidak pula mengundag kecederaan.

Namun, melakukan sedemikian pastinya satu kekurangan untuk mereka. Kekurangan untuk binatang ternak mereka membesar dengan baik. Tetapi lihatlah Anak-anak Syu’aib, dunia dan akhirat yang mana mereka pilih?

Penjagaan diri mereka ini membuatkan mereka sangat mahal.

Tidak memanjangkan bicara 1(kondisi diajak bicara)

Musa yang berehat di bawah pokok berdekatan hanya memandang. Pelik di matanya melihat dua orang perempuan berdiri menunggu di tepi sumber air bersama ternakan mereka. Pastinya dua perempuan itu bukan menanti suami atau ayah mereka siap memberi minum pada ternakan kerana keduanya membawa ternakan masing-masing.

Atas dasar ambil berat, Musa bangun dan bertanya.

“Mengapa dengan kamu berdua?”

Dan lihatlah bagaimana cantiknya akhlak Anak-anak Syu’aib. Lihatlah bagaimana mereka menjawab dengan kata-kata yang pendek, tidak meleret-leret, malah menutup lubang untuk menyambung bicara lain.

Terus sahaja mereka menjawab: “Kami tidak dapat memberi minum (ternakan kami) sehingga pengembala-pengembala itu membawa balik binatang ternak masing-masing; dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya”

Terus kepada point. – Kami tidak dapat memberi minum sehingga pengembala-pengmbala itu mebawa balik binatang ternak masing-masing –

Menutup ruang untuk perbualan berpanjangan – dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya –

Lantas Musa tidak menyambung perbualan mahupun bertanya lagi. Malah dia juga sudah tiada alasan untuk bertanya kerana segalanya telah terjawab dengan jawapan ringkas itu. Kata-kata “dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya” itu telah menjawab soalan-soalan seperti: “Habis, mana ayah awak?”, “Abang awak tak ada ke?”, “Ish, kesiannya, kenapa ya macam tu?” dan lain-lain.

Sangat bersih peribadi Anak-anak Syu’aib dalam menjaga diri mereka. Tidak berminat memanjangkan bicara yang tiada kepentingannya. Dan lihatlah pula kepada Musa, sangat bersih peribadinya dengan tidak mencari atau memikirkan mana-mana peluang lain untuk berbual, tetapi tanpa banyak bicara terus membantu ketika itu juga.

Tidak memanjangkan bicara 2(kondisi pemula bicara)

Dan apabila Nabi Syu’aib melihat kedua anaknya pulang lebih awal dari biasa, dia kehairanan dan bertanya. Maka kedua anak itu menceritakan perihal lelaki yang berteduh di bawah pokok. Maka Nabi Syu’aib mengarah salah seorang anaknya pergi memanggil.

Lihatlah bagaimana anak itu, walau berseorangan, tidak lagi ditemani ahli keluarganya, tidak pula mengambil peluang bermanja-manja atau berkenalan dengan lelaki yang berjasa itu.

Malah dia berjalan dengan tersipu-sipu, berjalan atas sifat malu, dan terus berkata menyampaikan hajatnya:

“Sebenarnya bapaku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami”

Tidak pula dia meleret-leret atau berpusing-pusing dahulu dengan sembang-sembang lain, tanya-tanya lain seperti:

“Eh awak, terima kasih lah tadi ya. Awak baik sangat. Walaupun kita tak kenal… bla bla bla”

“Awak siapa nama ya? Terima kasihlah tadi ya. Ah, ni ayah saya panggil. Dia kagum dengan awak. Yalah, siapa yang nak tolong perempuan masa ni… bla bla bla”

Tetapi Anak Syu’aib itu terus pada pointnya tanpa memanjangkan bicara – Sebenarnya bapaku menjemputmu untuk membalas budimu memberi minum binatang ternak kami – Habis cerita dan tiada lagi alasan untuk menyambung sembang baik dari Pihak Musa, mahupun pihaknya.

Dia melaksanakan amanah bapanya tanpa mengambil celahan pada amanah itu.

Bersihnya peribadi Anak Syu’aib. Sifat malunya sangat tinggi. Sangat menjaga budi pekerti. Tiada langsung apa yang dikatakan ‘gedik’ oleh manusia hari ini. Langsung tidak mengambil peluang berduaan dengan jejaka berjasa yang hebat itu. Dan lihatlah Musa. Bersihnya peribadi Musa, tidak pula mengambil peluang berduaan itu dengan memanjang-manjangkan sembang, mencari peluang berkenalan dan sebagainya.

Bagaimanakah kita hari ini?

Melihat Anak-anak Syu’aib, kita sepatutnya persoalkan diri kita.

Bagaimana kita hari ini?

Bila memberikan bantuan, bila meminta pertolongan, bila berbincang untuk sesuatu program di dalam mesyuarat, bila di Facebook, YM, dan di macam-macam situasi lagi. Bagaimanakah kita?

Di sini perlu kita lihat. Bagaimana Allah menunjukkan sikap Anak Syu’aib dan Musa AS. Anak Syu’ain mewakili perempuan, dan Musa AS mewakili lelaki. Bagaimanakah keadaan mereka, pergaulan mereka, akhlak dan peribadi mereka.

Adakah kita mencontohi?

Kebanyakan kita, kalau bercerita akan kisah Musa dan Anak Syu’aib, tak habis-habis menceritakannya dari sudut percintaan. Entahlah, saya pun tak faham. Kisah Nabi Yusuf dengan Zulaikha pun pergi cerita macam itu juga, balik kepada cinta.

Cinta nak kecoh. Malu tak mahu cerita. Macam mana masyarakat nak jadi bagus?

Penutup: Saya sangat kagum dengan Anak Syu’aib

Huraian ini diceritakan oleh pensyarah Hadith saya semester ini, Dr Samirah Tohir. Semasa dia menceritakan cerita ini, saya tak henti-henti tersengih. Entah kenapa, saya terbayang-bayangkan wanita yang mempunyai sifat malu seperti ini.

Alangkah indahnya dunia kalau dipenuhi wanita-wanita sebegini. Terjaga pergaulan mereka, bersih peribadi mereka, cantik akhlak mereka, mahal harga diri mereka.

Kisah ini membuatkan saya berazam untuk mendidik diri dengan lebih kuat lagi. Biar nanti kalau Allah kurniakan saya anak perempuan, saya senang anak perempuan saya terjaga seperti terjagana anak-anak perempuan Syu’aib.

Semestinya, anak-anak perempuan Syu’aib mempunyai akhlak yang sedemikian kerana terdidik dengan didikan ayahanda mereka, Nabi Syu’aib AS.

Ya Allah, kurniakanlah sifat malu Anak Syu’aib itu kepada perempuan hari ini.

Ya Allah, kurniakanlah juga keindahan akhlak Musa itu kepada lelaki hari ini.

Sumber: http://ms.langitilahi.com/perkongsian-wahai-perempuan-lihatlah-anak-syu’aib-itu/comment-page-1/#comment-10212